spacer
spacer
 
Berpikir Hijau untuk Pembangunan Berkelanjutan PDF Print E-mail

Berpikir Hijau untuk Pembangunan Berkelanjutan

Kebahagiaan, rasa aman, kesehatan adalah kualitas hidup yang ingin dicapai manusia. Apapun kualitas hidup yang ingin dicapai manusia, pada akhirnya alam menjadi sumber utamanya.  Materi yang disediakan alam seperti air dan udara merupakan sumber utama hidup manusia. Demikian juga jasa lingkungan, seperti siklus, hutan merupakan layanan gratis dari alam untuk mendukung hidup manusia.


Sayangnya sampai saat ini manusia membangun hidupnya bukan dengan bekerja sama dengan alam, melainkan dengan merusak alam. Akibatnya, sumber penghidupan manusia itu justru menjadi rusak dan selanjutnya mengancam kelangsungan hidup manusia, lewat berbagai bencana yang timbul setelahnya. Berpikir hijau menganjurkan kita untuk menjaga keberlanjutan alam, sehingga manfaatnya masih dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Pernahkah kita berpikir dari manakah air dan udara yang selama ini kita gunakan? Air merupakan sumber kehidupan manusia. Kita sering kali melihat dan mendengar peribahasa tersebut. Air seperti kita ketahui mempunyai siklus yang terus berlanjut. Siklus ini merupakan siklus alam yang akan berlangsung terus menerus. Jika kondisi alaminya dapat di jaga, maka siklus ini akan berjalan sesuai dengan hukum-hukum alam. Misalnya, air dari laut, dengan pengaruh panas dari matahari, akan menguap, ke udara dan tersimpan di dalam awan. Dari awan akan turun lagi ke bumi, menjadi hujan, kemudian akan mengalir ke laut.

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama air akan bertahan di dalam tanah sehingga dapat kita konsumsi? Jawabannya adalah tergantung dari kemampuan tanah untuk menahan air tersebut. Saat air hujan turun ke tanah, maka ada air hujan yang diserap oleh tanah dan ada air hujan yang tidak di serap oleh tanah atau run off. Tak hanya itu, di musim kemarau pun air masih ada. Pertanyaannya adalah, di manakah air tersebut tersimpan?

Air tersebut tersimpan di dalam tanah. Tanah yang subur seperti spons ajaib, yang dapat menyimpan air sampai sepuluh kali dari beratnya. Tanah yang subur ini, tidaklah tebal. Hanya selapis tipis yang menjadi gudang penyimpan air. Jika kita pernah melihat tanah yang dikeruk untuk pembangunan, atau gunung yang diambil tanahnya untuk penimbunan maka akan sangat jelas terlihat lapisan-lapisan tanah tersebut.

Air yang tidak tersimpan di dalam tanah akan lari atau mengalir ke tempat yang rendah. Besar kecilnya air yang lari tersebut tergantung dari kondisi penahannya. Pohon merupakan penahan utama air yang turun dari langit. Oleh karena itu tanah yang berhutan akan mampu menampung air lebih besar dari tanah yang menjadi lahan pertanian, apalagi tanah yang sudah dijadikan pemukiman dengan jumlah penduduk yang banyak dan padat.

Hutan yang baik akan menyimpan air sebesar 99% dan sisanya 1% akan dialirkan melalui sungai-sungai ke laut. Kondisi ini dapat juga dilihat dari jumlah air yang ada di sungai-sungai. Jika hutannya masih bagus, maka kondisi air sungai di musim hujan dan musim kemarau tidak berbeda jumlahnya, tetapi jika hutan sudah rusak, maka di musim hujan sungai akan kebanjiran dengan air dan lumpur sementara di musim hujan akan kekeringan.

Akibat yang kita rasakan secara langsung adalah pada musim hujan kita akan kebanjiran dan pada musim kemarau kita akan kekurangan air. Berdasarkan data yang kami kumpulkan saat ini, kelihatan sekali bahwa kondisi hutan di Aceh khusunya semakin menurun dari tahun 1940 – 2000. Hal ini disebabkan oleh paradigma pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Apa akibat yang muncul karena penurunan fungsi hutan? Terjadilah erosi. Apa yang kita tahu tentang erosi? Coba perhatikan gambar berikut ini. Apa yang membedakan antara keduanya? Sekarang perhatikan juga kondisi tanah tanpa pohon, dengan satu pohon dan dengan pohon dan humus, mana yang paling tinggi erosinya?
Ternyata yang paling tinggi erosinya adalah yang tidak mempunyai pohon. Mengapa begitu? Karena air yang jatuh ke atas daun pohon, akan mengumpul dan meyebabkan butiran air yang jatuh ke tanah akan lebih besar.

Oleh karena itu kita memerlukan hutan, yang mempunyai daur alami sehingga dapat menjadi sistem penyimpanan air. Daun-daun yang kering diurai menjadi humus. Humus ini menjadi nutrisi untuk tanaman dan mikro organisme yang ada di tanah. Hutan mampu menyimpan air dengan daur alaminya, Oleh karena itu kita perlu membuat hutan, bukan hanya menanam pohon. Tetapi juga membuat hutan yang menyeluruh yang dapat menghidupkan mikroorganisme di dalam tanah.

Bisa kita bandingkan kemampuan menahan air, buatan manusia berupa bendungan dan hutan. Terlihat bahwa bendungan buatan membutuhkan biaya yang tinggi dan pengorbanan yang besar dari masyarakat.

Di beberapa negara, hutan kotanya mampu memenuhi kebutuhan air manusia. Hutan kota yang dijaga tersbut menjadi sumber pemenuhan kebutuhan air masyarakatnya. Hal ini sudah dibuktikan oleh negara AS, Jepang dan Australia.

Manfaat lain hutan adalah menjadi penyerap panas bumi. Hutan menyerap panas dan menyediakan tanah subur. Jika hutan rusak, maka masyarakat akan merasakan kelaparan karena tidak ada tanah yang subur yang dapat menghasilkan makanan, tidak ada sumber air yang dapat memutar turbin sehingga dapat menghasilkan listrik.

Pemahaman tentang lingkungan harus dimulai dari sekarang. Sehingga semakin muda muncul pemahaman, maka akan semakin besar kemungkinan untuk menjaga alam tetap hijau.

Penulis: Siti Hajar (Alumni BLP angkatan 1, Pidie)how to learn to play golf and simple golf swing review