spacer
spacer
 

 

Duh... Keong Mas

Sampai saat ini sudah dua kali berkesempatan berkunjung ke desa dalam rangka melihat keberlanjutan alam dan potensi sumberdaya alam. Kali pertama adalah saat mengunjung desa Aron Kecamatan Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie dan kedua saat mengunjungi Desa Bineh Blang Kecamatan Blang Panyang Kabupaten Aceh Besar.  Di kedua tempat tersebut kami mendapati keong mas  (pomacea canaliculata lamarck) di pinggir jalan dekat  sawah, ada yang dimasukkan kedalam karung, kantong kresek  serta ada yang ditaruh begitu saja.

 

Hampir di setiap daerah di Aceh hama keong mas menyerang tanaman padi. Beberapa petani di kawasan Kembang Tanjung mengutip keong mas yang ada di sawah mereka dan kemudian meletakkan begitu saja di pinggir jalan.  Ada pula yang menggunakan pestisida berbahan aktif niclos amida untuk membunuh hama keong mas. Dalam perlakuan ini setelah keong mas mati maka akan tinggal cangkangnya yang tajam. Petani harus hati-hati ketika memungut cangkang-cangkang keong mas atau pada saat menanam padi. Kalau tidak, tangan mereka akan tergores dengan kulit keong mas yang tajam.

 

Untuk memudahkan pengumpulan keong mas, petani biasanya memancing dengan menggunakan pohon, atau daun pepaya. Keong mas senang berkumpul dekat batang dan daun papaya. Tumpukan keong mas dengan mudah dan cepat dapat dikumpulkan oleh petani. Tetapi telur-telur keong mas menetas dengan cepat menjadi anak-anak keong mas. Petani mengakui sangat sulit memberantas hama keong mas ini, walau telah melakukan cara apapun.

Menurut cerita petani, mereka pernah memberikan keong mas kepada ternak seperti bebek namun yang terjadi bebek-bebek mereka mengalami lumpuh dan akhirnya mati. Kemungkinan karena keong-keong mas tersebut mengandung zat kimia yang berada dalam areal persawahan, karena petani selalu menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk menyuburkan tanah sawah mereka.   

Ternyata di Aceh Utara, keong mas tidak selamanya menjadi bencana. Beberapa orang petani tambak memanfaatkan keong mas sebagai pakan udang windu. Warga yang mempuyai tambak megumpulkan keong mas ke sawah-sawah atau bahkan mereka membelinya dari petani dengan harga Rp. 250/kg. Mula-mula keong mas direbus kemudian diambil dagingnya. Setelah dicuci langsung ditebarkan ke dalam tambak udang windu. Keong mas membawa berkat kepada petani tambak.

Menurut Badan Litbang Departemen Pertanian, keong emas berasal dari Amerika Selatan dan diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980an, sebagai makanan potensial bagi manusia. Namun, kemudian keong mas menjadi hama utama padi yang menyebar ke Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Hari ini  keberadaan keong mas sangat menggangu petani padi di Indonesia, termasuk di Aceh.

Menurut Bapak Dr. M. Yunus Ibrahim, Dosen Jurusan Peternakan Universitas Syiah Kuala, keong mas bagus untuk dijadikan pakan ternak karena kandungan protein yang sangat tinggi. Akan tetapi keong mas harus diproses lebih dulu dengan merebus keong mas kemudian dikeringkan, seterusnya sekalian dengan cangkang keong mas dihancurkan sampai menjadi tepung.  Akhirnya tepung keong mas dicampurkan dengan bahan-bahan yang lain seperti jagung, tepung ikan, kedelai, minyak ikan dan lain sebagainya. Mudah-mudahan dengan cara ini, keong mas tidak lagi menjadi hama.

Penulis: Siti Hajar (Alumni BLP/Bridging Leadership Program, Angkatan 1 Pidie)
Tema ini muncul ketika diskusi tanggal 8 Januari 2010 di Banda Aceh yang dihadiri oleh Rahmi, Mirza, dan Khadafi