spacer
spacer
 
Ancaman Lingkungan Desa Aron
Oleh: Siti Hajar

Mengunjungi Desa Aron, Kecamatan Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie, pada tanggal 31 Desember 2009 bersama peserta Pelatihan II BLP (Bridging Leadership Program) -- yaitu progam pelatihan untuk memperkuat kader kepemimpinan Aceh yang berwawasan lingkungan Angkatan III Pidie -- membuat saya seperti mengenal kampung sendiri. Potret Desa Aron seperti desa-desa lainnya di Kabupaten Pidie dan daerah lain di Aceh pada umumnya. Kebanyakan dari warga Desa Aron bermata pencaharian sebagai petani. Hamparan sawah yang hijau di desa itu menjadi pemandangan yang menyejukkan mata.
Menurut cerita beberapa warga, di Desa Aron setiap musim tanam tiba masyarakat rutin turun ke sawah untuk menanam padi. Namun sangat disesalkan, untuk menyuburkan lahan pertanian petani di Desa Aron masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Hal ini juga terjadi di kampung tempat aku lahir, di Desa Gle Gapui yang berada di kaki bukit di antara Kecamatan Sakti dan Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie.
Hasil pertanian yang dihasilkan di sana seperti padi, cabe, sayuran dan hasil pertanian lainnya yang dijual ke pasar bisa dipastikan menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Padahal itu sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.
Sama halnya dengan cerita seorang nenek di Desa Aron pada saat kami mengunjungi rumah Ibu Mariani -- salah seorang peserta alumni BLP yang pada saat itu memang berada di rumah tersebut -- beliau bercerita bahwa dulu mereka tidak memakai pupuk kimia kecuali  abu dapur, dan kotoran ternak untuk menyuburkan tanah sawah mereka. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman masyarakat beralih kepada pupuk yang dijual di pasar seperti Urea, KCl dan TSP.
Begitu pun umumnya petani sudah menggunakan traktor untuk mengolah membajak tanah sawah mereka. Menurut mereka, dengan menggunakan traktor pekerjaan menjadi mudah dan dalam waktu yang sangat singkat tanah mereka tergarap dengan cepat, sementara bila  menggunakan bajak dengan tenaga sapi atau kerbau secara tradisional waktu yang dibutuhkan akan lama. Maka perkiraan mereka sekarang lebih praktis dibandingkan 20 tahun silam.
Tentunya mereka tidak sadar bahwa dengan cara itu mereka harus membayar tinggi untuk biaya tanam yang dikeluarkan setiap tahunnya juga resiko yang harus di tanggung. Tetapi bagi petani yang mempunyai kemampuan lebih hal ini tidak menjadi kendala karena mereka sanggup membayar orang untuk mempekerjakan sawah mereka. Begitupula dengan pupuk, pestisida dan bibit yang boleh dihutang lebih dulu dan baru akan dibayar pada saat panen tiba.
Pun demikian, apabila dihitung biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani untuk satu periode tanam pastinya sangat tinggi. Mereka juga mengakui hanya tinggal padi sedikit setelah hasilnya dipakai untuk membayar semua kebutuhan saat musim tanam, tetapi setidaknya cukup juga untuk makan sampai musim panen depan tiba.
Secara umum kita harus sadar bahwa pupuk dan pestisida yang kita gunakan, jika ditinjau dari segi lingkungan dapat mencemari lingkungan, baik itu air, tanah serta ekosistem sawah. Penggunaan pestisida untuk membasmi hama ternyata tidak hanya hama yang akan mati tetapi makhluk-makhluk lain yang ada di areal persawahan juga ikut musnah. Padahal di antara hewan-hewan tersebut ada yang membantu tanaman untuk penyerbukan. Di tempat-tempat tertentu penggunaan bahan kimia juga merangsang terjadinya ledakan hama seperti hama wereng, walang sangit, dan keong mas yang sangat mengganggu petani.
Dilihat dari sisi kesehatan, penggunaan pupuk dan pestisida kimia juga berbahaya bagi tubuh manusia. Bersentuhan langsung dengan zat kimia yang berbentuk racun tersebut dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Apabila terhirup, zat kimia tersebut maka orang bisa merasa pusing dan mual-mual, dan dalam jangka waktu yang panjang dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian. Belum lagi zat kimia yang tertinggal dalam tanaman yang kita konsumsi. Zat tersebut akan terus menempel pada kulit buah, daun, dan batang dari pohon yang disemprot dengan menggunakan pestisida kimia tersebut. Lama-kelamaan residu kimia itu akan terus  menumpuk  di dalam tubuh kita. Maka tidak heran saat ini kita sering mendengar orang mengalami penyakit yang jarang ditemui pada zaman dulu seperti kanker hati dan gangguan pada ginjal.
Hal lain yang menjadi perhatian kami adalah sungai yang mengalir di Desa Aron. Warnanya kecoklatan dan menurut beberapa warga desa juga kerap terjadi banjir sampai ke pemukiman warga. Banjir sudah menjadi langganan bagi warga Desa  Aron. Masyarakat di daerah ini selalu siaga menyambut kedatangan si air bah yang tidak mengabari kapan dia akan datang. Menurut pengakuan warga, frekuensi banjir di musim hujan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Begitu pula apabila musim kemarau sungai dan sumur menjadi kering. Seperti pada saat kami berkunjung ke tempat kediaman Yusdiana, salah satu alumni BLP, di desa yang sama bulan puasa tahun 2008. Pada saat itu, menurut Yusdiana, orang sekampung kebanyakan hanya mandi sekali dalam sehari, karena debit air sumur dan air sungai berkurang. Padahal perubahan ini dulunya tak dirasakan oleh warga di sini. Tentu ini adalah dampak dari ulah kita sendiri, yaitu akibat perambahan hutan yang terus-menerus terjadi di sekitar kita.

Masih Ada Kesempatan
Kita masih punya kesempatan jika ingin mengembalikan keadaan desa kita menjadi asri kembali seperti dulu, dengan sungai yang bersih bebas dari sampah dengan airnya yang jernih. Tanah sawahnya subur dengan hasil tanam yang sehat karena tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Untuk itu, mulai dari hari ini mari bersikap lebih bertanggungjawab terhadap lingkungan kita demi kelangsungan hidup generasi mendatang. Karena, apabila kondisi buruk ini terus kita biarkan, maka tidak heran bila kebinasaan akan kita rasakan.
Mari kita selamatkan hutan untuk mencegah datangnya banjir. Mari kita gunakan kayu dan pohon seperlunya, karena hutan kayu adalah sumber kehidupan manusia dan alam. Mengurangi penggunaan sampah plastik adalah wajib. Apabila ada sampah yang berasal dari tumbuhan maka ini dimanfaatkan kembali. Sampah rumah-tangga yang berasal dari bahan organik dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya dengan menguburkannya di halaman belakang rumah. Cara seperti ini akan menambah atau memperbaiki kesuburan tanah. Dengan tanah yang subur kita dapat menanam berbagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tidak harus membelinya di pasar.
Metode Takakura juga boleh dicoba. Metode Takakura menggunakan sebuah keranjang yang terlebih dahulu diisi kompos yang sudah jadi dengan tujuan agar bakteri yang akan mengurai sampah organik sama dengan yang ada di daerah kita. Setelah itu sisa sayur dan sisa makanan dapat dimasukkan ke dalam keranjang Takakura tersebut. Keranjang takakura sanggup mengolah sampah organik 1-2 kg dalam sehari karena itu cocok untuk skala rumah tangga. Tetapi apabila kita memelihara ayam atau ternak lainnya maka sisa makanan bisa diberikan kepada ternak.
Plastik merupakan sampah yang paling berbahaya bagi lingkungan karena sukar larut dan tidak dapat diuraikan sendiri oleh alam. Untuk membuat plastik hancur, alam membutuhkan waktu 10-100 tahun. Bayangkan ketika semua orang memakai plastik dalam jumlah yang banyak maka bumi ini akan penuh dengan plastik. Kita akan serba salah ketika menghadapi sampah plastik karena apabila plastik dibakar maka akan menyebabkan polusi udara, dan gangguan pernafasan serta radang paru-paru adalah akibat yang mengikutinya. Selain itu sisa pembakaran yang berupa gumpalan berwarna hitam akan menjadi racun bagi tanah.
Sudah menjadi trend masa kini apabila kita belanja di pasar, maka setiap barang yang kita beli kita akan mendapat bonus satu kantong kresek secara gratis. Bayangkan kalau ada 10 macam barang yang kita beli dalam satu hari, maka kita akan membawa 10 kantong plastik ke lingkungan rumah. Jika ada 20 rumah dalam kompleks tempat tinggal kita, maka dalam 1 hari kita menghasilkan 200 kantong plastik. Coba kalikan dalam waktu 1 tahun, dan seterusnya 10 tahun. Maka dapat kita bayangkan dalam 50 tahun ke depan tumpukan sampah di sekitar kita menjadi banyak sekali. Apakah kita akan mempertahankan gaya hidup kita yang seperti ini maka kita akan mengorbankan anak-cucu kita kelak.

Satu Cara: 3 R
Hanya ada satu cara, yaitu dengan 3 R. Reuse berarti memakai lagi plastik yang kita bawa ke rumah, menggunakannya berulang-ulang, atau memberikannya kepada yang membutuhkan atau menjualnya. Reduce (mengurangi). Sebagai contoh, jika kita membeli nasi bungkus tidak perlu meminta plastik terlalu banyak. Bahkan jika mau kita bisa menentengnya tanpa plastik atau membawa tempat makan sendiri. Recycle (daur ulang). Barang-barang seperti kardus, kaleng minuman, botol aqua gelas dapat dikumpulkan ke dalam satu wadah dan kita dapat menjual kepada pembeli barang bekas untuk didaur ulang.
Salah satu cara mengurangi dampak sampah plastik adalah dengan menggunakan berbagai bungkusan dari bahan organik. Para pendahulu kita menggunakan daun pisang atau daun jati untuk membungkus ikan, sayur, dan bahan makanan lainya. Membawa tas dari bahan kain atau bahan plastik yang berukuran besar akan mengurangi sampah plastik yang kita bawa dari pasar. Bahan yang seperti ini dapat kita gunakan berulang kali. Saya teringat ketika dulu orang-orang tua di kampung saya selalu membawa eumpang thiep (tas yang dibuat dari daun pandan atau batang iboh) ke mana saja mereka pergi, seperti ke ladang, ke sawah, maupun ke pasar.
Apakah kita akan mempertahankan gaya hidup kita yang suka dengan kantong plastik dan minuman dalam botol plastik? Ini adalah pilihan. Tentunya kita akan mempersembahkan yang terbaik untuk generasi kita kelak, bukan?

Siti Hajar
Alumni BLP Angkatan 1 Pidie
Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it